MENGAWAL TRADISI KULTURAL, SOSIAL KARAKTER HINGGA MODERN LITERASI
- tenda buku
- Mar 26, 2020
- 3 min read
oleh Wisda Putra Atmanegara
Perkembangan pendidikan Indonesia bisa dikatakan harus mengaca dari tradisi kultural, dari sisi historis Masa Kejayaan Kerajaan ataupun Masa Keemasan Keraton Kasultanan yang tumbuh dan berkembang dengan diawali kesadaran mencatat peristiwa hingga kesejarahan sampai mewariskan berbagai macam nilai, kepercayaan, pengaruh sosial karakter sampai budayanya ke dalam dominasi bentuk sarana berupa prasasti, yupa, keropak,daun lontar dan kitab.
Jika ditilisik lebih mendalam tentang tradisi maka sisa-sisa kejayaan yang sengaja ataupun tidak, ditanamkan oleh kekuasaan pada waktu itu dapat kita temui di berbagai penjuru ataupun yang sudah diberi pemugar agar kondisinya tetap terawat dan terjaga. Adapun keterkaitannya dengan pendidikan Indonesia jauh lebih mutakhir pemikiran-pemikiran tempo Kerajaan ataupun Kesultanan yang jauh lebih kompleks meski masih belum mengenal modernitas teknologi.
Tercatat berbagai periode Kejayaan Kerajaan yang pernah berjaya seperti kerajaan tarumanegara, kutai, sriwijaya, singasari, kasultanan demak, gowa-tallo hingga majapahit. Termasyurnya kerajaan-kasultanan itu tidak lepas dari peran sistem atau strategi-strategi politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga hukum dan keamanan suatu wilayahnya. Sisi lain dari itu terdapat pengaruh masyarakat atau sosial karakter yang mengakar dan menjadi tonggak pendukung hingga terlahir berbagai kerajaan yang dasyat.
Sangat Jauh berbeda jika dibanding Indonesia yang sekarang. Saat ini bisa jadi Indonesia dalam ancaman kritis. Orde baru yang revolusioner tidak membuat Indonesia yang sekarang menjadi tumpuan ataupun moment kebangkitan yang diidam-idamkan banyak masyarakat di Indonesia. Melemahnya rupiah, teror korupsi, tekanan pasar ekonomi Asia yang baru-baru ini cukup meributkan banyak ketimpangan dan kegalauan masyakat yang belum siap mengahadapi berbagai bentuk kesimpang-siuran MEA. kebakaran hutan yang dikaitkan dengan bencana nasional, Gafatar sampai isu Terorisme, Pelindo dan Freeport seakan nyaring diberitakan.
Memang sistem regulasi pemerintahan yang tidak stabil, program-program kerja yang tidak tepat sesuai sasaran, tata kelola kota yang tidak merata menjadi banyak aspek yang harus diselesaikan secepatnya. Dan fungsi pemerintah kali ini memang dibutuhkan peran masyakat yang harus sadar, tidak hanya sadar lingkungan tetapi sadar melakukan aktifitas yang positif dan berkarakter hinga mempunyai pengaruh terhadap masyarakat lain untuk ikut berpartisipasi aktif dalam hal yang diperoleh dari pengalaman sampai ilmu yang sesuai dengan kondisi atau konteks ruang yang ditempati, terutama dalam hal membaca ataupun menulis. Karena dengan banyak kita melakukan kegiatan itu, secara naluriyah mindset kita akan kenyataan dan romantisme mimpi akan mempengaruhi kondisi tubuh dan pikiran kita untuk berbuat hal yang baik dan selalu ingin lebih baik. Disamping itu belajar membaca dan menulis cocok untuk semua kalangan, baik akademisi sampai semua komponen masyarakat. Juga akan berdampak lebih baik jika suatu bangsa mengenal lebih tradisi dan literasi bangsa itu sendiri. Atau entah dalam hal apapun untuk mendukung dan mengawal pemerintahan Indonesia kini.
Terlepas dari itu memang Indonesia pernah mempunyai kejayaan yang diakui sampai mancanegara. Permasalahannya pada saat ini ataupun masa yang akan datang, “Apakah Indonesia bisa melanjutkan tradisi kultural yang memiliki arti lebih dibanding masa kejayaan lampau ?” “Apa latar belakang pendidikan Indonesia saat ini hanya bisa mengenang kejayaan dan mati dalam tidur yang sudah terlalu nyenyak ?” ”Ataukah Indonesia akan berbenah dengan bertindak atas suksesi proses revitalisasi yang dilakukan sampai ke pelosok daerah dengan semboyan Kerja Kerja Kerja ?”.
Dan jika sampai program dan kerja pemerintah terealisasi maka masyarakatlah yang juga akan merasakan keharmonisan menjadi warga negara yang baik. Karena itu perlu kiranya kita sebagai pemuda untuk menjunjung tinggi nilai sejarah, budaya dan pahlawan yang kiranya telah mengantar kita ke gerbang kemerdekaan dan selalu mengontrol, mendukung dan mengawal kinerja pemerintah untuk negara yang sesuai cita-cita pancasila yang diambil dari retikan Kitab Sutasoma karya besar Mpu Tantular yang dirumuskan dalam kalimat “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya Berbeda-beda tetapi tetap Satu selfie pemuda Indonesia. hehe guyon, artie gak ngunu. Mboghh dibalik tulisan iki artie opo pokoe Indonesia tetep siji, tetep guyub, tetep sumringah, karo netep berkarya. Salam Okololo !!!


Comments