top of page

Cinta Mawar Berduri

  • Writer: tenda buku
    tenda buku
  • Mar 26, 2020
  • 4 min read

oleh Zieza Alsha


Aku masih ingat, saat ia memberiku setangkai mawar hitam penuh duri padaku, “ini untukmu” ucapnya kala itu.


Saat ku ambil mawar itu, tiba-tiba saja pria itu menggenggam tanganku, sehingga membuat jariku tertusuk duri mawar hitam, darah merah menetes dari jariku, aku merintih kesakitan, sementara pria itu berlari layaknya orang gila mencari tissu sialan.

Beberapa menit setelah darah dijariku terhenti, pria itu kembali dengan selembar tissu ditanganya, ia melemparkannya padaku, sambil berteriak, “bersihkan lukamu”, timbul rasa kesal, dan marah dalam diriku hanya saja aku tetap diam, dan menuruti perintahnya.


Pertama kali aku berkenalan dengan pria itu saat ibuku menyuruh membeli mawar putih di sebuah toko bungah, aku memamg sering melihat pria itu di toko itu, ku kira dia adalah pegawai disana, ternyata aku salah, ia menghampiriku ketika salah satu pegawai di toko bungah memanggilku.


“kak Mawar..., ini ada bonus satu tangkai mawar dari kami.

Pria itu menghampiriku, dengan sebuket mawar merah dan setangkai mawar hitam ditangannya, kami berkenalan, “namanya Mawar ya?” ucapnya padaku.


“aku Anto, senang berkenalan denganmu” lanjutnya, aku hanya mengangguk tersenyum.


Setelah perkenalan itu, kami menjadi dekat, dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, ke kampus, berkumpul dengan teman-temanku, bahkan di rumah ia menungguiku meski hanya di ruang tamu, “kak Anto ngak kerja?” tanyaku padanya.


“ada bayak karyawan di perusahaan ku, dan aku hanya memantau mereka saja melalui ponsel” jawabnya.


“ouhhh... begitu” kataku dengan tersenyum

“kenapa? Kamu ngak suka kalau aku ada disampingmu?” lanjutnya.

“bukan kok, bukan itu, aku hanya ingin tahu pekerjaan kak Anto aja kok” jawabku padanya.


Beberapa hari berlalu, dan kami semakin dekat, ia selalu memberiku apapun yang aku inginkan, bahkan tanpa ku minta, ia memberiku segalanya, dia juga seperti supir untukku, selalu mengantarku kemanapun aku pergi, dia selalu berada disampingku, meski tak ada ikatan komitmen diantara kita.


Namun, ada yang aneh, semenjak aku dekat dengan pria itu, semua teman-temanku berkurang, satu persatu temanku menjauhiku, entah apa alasannya, mereka selalu menghindariku setiap kali aku bertemu dan menyapa mereka.


Suatu hari, saat ulang tahunku tiba, pria itu mengajakku ke suatu tempat, dia menutup mataku dalam perjalanan menuju tempat itu, sepertinya satu jam lebih perjalanan yang ditempuh, hingga ahirnya kami sampai ditempat tersebut.


Dia membuka penutup mataku “sudah sampai” ucapnya. Tempat itu adalah taman bungah, tak begitu luas, dan ditempat itu hanya ada bungah mawar, sekumpulan mawar merah dan mawar hitam, “bagus bukan? Taman ini adalah miliku, dan sekarang taman ini untukmu” ucapnya padaku.


Aku hanya diam, karna bagiku, hadiah ini tak begitu spesial untukku dihari ulang tahunku ini, meski namaku mawar, tapi aku tak begitu menyukai mawar. Pria itu berlari meninggalkanku, ia berlari-lari memutari taman itu, masuk disela-sela bungah mawar, dengan tertawa seperti orang gila, berputar-putar tak jelas selama satu jam lebih, dan aku hanya memandang aneh, lalu dia pergi keluar dari taman itu entah kemana, dan meninggalkanku sendirian di taman itu.


Beberapa saat kemudia, ia kembali, dan menangis sambil memegang lututku, menangis dengan sangat keras, aku hanya membisu tak tahu harus berbuat apa, ku elus saja rambutnya, mencoba menenangkannya.


Kamipun pulang, dia hanya mengantarku sampai depan rumah, tak seperti biasanya yang selalu mampir sekedar meminum segelas kopi, ia langsung pergi berlalu dengan mobilnya. Beberapa hari ia menghilang tanpa kabar, dihari-hari tanpa dirinya itulah teman-teman dekatku yang menjauhiku mulai kembali padaku, mereka bercerita tentang pria itu, mereka menceritakan alasan kenapa mereka menjauhiku, ternyata semua teman-temanku diancam oleh pria itu agar menjauhku, mendengar semua itu aku marah, dan ingin menjauhi pria itu.


Dua minggu setelah ia menghilang, dia kembali, bukan rasa rindu yang ku sampaikan, tapi amarah dan teriakan yang meluncur dari bibirku, “untuk apa kau kembali?” bentakku.


“ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini padaku?” ucapnya.

“kenapa? Kenapa?, kamu ngak tahu kesalahanmu? Kenapa kau mengancam teman-temanku dan menyuruh mereka menjauhiku?” teriakku padanya.

“pergilah! Jangan pernah lagi muncul dihadapanku!” lanjutku.


Hari itu kami berdebat dan bertengkar hebat untuk pertama kalinya, karna selama ini aku hanya diam dan diam meski ada banyak kesalahan yang ia lakukan. Dia pun berlalu pergi, dari kejauhan kulihat ia mengusap air matanya.


Setelah pertengkaran itu, ia tak berani lagi untuk mendekatiku, namun, dia selalu mengikutiku, kemanapun aku pergi, dan setiap kali kepergok mengikutiku, saat ku hampiri ia berlari entah kemana. Setiap hari ia mengikutiku dan mengikutiku.


Suatu sore yang mendung, saat aku menunggu datangnya bus, untuk pulang setelah kuliah berlangsung, kulihat dia berada diseberang jalan depan halte bus tempat aku menunggu datangnya bus, ia membawa kresek hitam besar, entah itu apa isinya, cukup lama aku menunggu bus yang tak kunjung datang, hingga langitpun menangis, benar, hujan turun dengan derasanya, kulihat pria itu masih berada disana.


Kualihkan perhatianku agar tak melihatnya, dan saat ku lihat lagi dia sudah tak ada, kucari kemana perginya, ternyata ia berlari kearahku, “ada apa? Berhentilah mengikutiku!” bentakku padanya saat ia sudah tepat dihadapanku.


Dia hanya diam, dan mengeluarkan isi dari kresek hitam yan ia bawa, ternyata itu adalah beberapa bungah mawar, lima belas mawar merah dan setangkai mawar hitam, ia melemparkannya padaku, dan berlari pergi, tak lama bus datang, dan kutinggalkan bungah-bungah mawar itu.

***

Setelah melempar beberapa bungah mawar padaku pria itu menghilang, dia tak lagi mengikutiku, aku pun bersyukur, karna selama ini aku selalu takut setiap kali ia mengikutiku, entah bagaimana kabarnya aku tak peduli lagi, hingga suatu hari ada kabar bahwa ia menninggal.

“eh War, teman kamu yang si Anto sudah meninggal” ucap salah satu temanku.

“benarkah?” tanyaku kaget.

“coba deh kau lihat beritnya di internet.” Kata temanku.

Kubuka ponselku, dan kucari berita itu, ternyata dia meninggal disebuah taman, taman yang pernah kudatangi bersamanya saat ulang tahunku, dari berita yang kubaca ternyata dia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya berkali-kali, terdapat pula beberapa duri mawar yang menusuk ditubuhnya.

Setelah kubaca lagi, ternyata ditempat itu juga pernah terjadi kecelakaan, seorang wanita meninggal karna terjatuh dengan luka dikepala, wanita itu ternyata punya nama yang sama denganku “mawar” dan wanita itu adalah kekasih pria itu.




Biodata Singkat Penulis
 Zieza Alsha adalah nama pena dari Nur Azizah, penulis lahir pada tanggal 05 Juli 1992 di desa kecil yang namanya cukup unik yakni, Bangeran kecamatan Dukun kabupaten Gresik Jawa Timur. Saat ini berdomisili di Surabaya, menyukai dunia menulis semenjak masih kecil, sampai saat ini masih terus  mendalami dunia tulis-menulis, beberapa  karyannya sudah ada yang diterbitkan di beberapa event yang pernah diikuti, FB Zieza Alsha, alamat gmail penulis zheealsha@gmail.com, no yang bisa dihubungi 085792498055.





Recent Posts

See All

Comments


© 2020 by Tenda Buku created with Wix.com

bottom of page